Kiprah BPDASHL Barito Dalam Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Hutan

KIPRAH BPDASHL BARITO DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SEKITAR HUTAN

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KemenLHK) mempunyai program Pemulihan Daerah Aliran Sungai (DAS) pada DAS yang telah ditetapkan sebagai DAS Prioritas Nasional, termasuk diantaranya adalah DAS Barito yang melewati dua provinsi yaitu Provinsi Kalimantan Selatan, pada bagian Tengah dan Hilir DAS, serta Provinsi Kalimantan Tengah, pada bagian Hulu DAS. Salahsatu upaya dalam Program Pemulihan DAS tersebut adalah kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) yang mempunyai dimensi kegiatan berupa penanaman pohon pada lahan-lahan kritis DAS, pemberian insentif bagi kelompok tani RHL, peningkatan kapasitas anggota maupun kelompok tani RHL, dan fasilitasi sarana-prasarana pendukung RHL. Adapun wujud kegiatan tersebut di atas dibungkus dalam beberapa paket/skema kegiatan berupa 1) Kebun Bibit Rakyat (KBR) 2) Pengembangan Perhutanan Masyarakat Pedesaan Berbasis Konservasi (PPMPBK) 3) Bantuan bibit penghijauan 4) Pembibitan pada Areal Kerja Hutan Kemasyarakatan; dan 5) Fasilitasi Pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).

Lokasi Desa Tebing Siring di DAS Tabunio dan Desa Telaga Langsat di DAS Gayam, wilayah kerja BPDASHL Barito (Disusun : Nolianto Ananda)

Lokasi Desa Tebing Siring di DAS Tabunio dan Desa Telaga Langsat di DAS Gayam, wilayah kerja BPDASHL Barito (Disusun : Nolianto Ananda)

Agroforestry silvopastura di Desa Telaga Langsat

Agroforestry silvopastura di Desa Telaga Langsat

KemenLHK melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Pengelolaan DAS Dan Hutan Lindung (PDASHL) yaitu Balai Pengelolaan DAS Dan Hutan Lindung (BPDASHL) Barito di Banjarbaru mengaplikasikan beberapa skema kegiatan tersebut di atas yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan masyarakat setempat. Salahsatu lokasi yang terpilih adalah Desa Tebing Siring dan Desa Telaga Langsat di Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan; yang berada di DAS Tabunio dan DAS Gayam pada Wilayah Kerja BPDASHL Barito. Pada kawasan hutan produksi di Desa Tebing Siring telah diterbitkan hak pengelolaan hutan bagi masyarakat desa  berupa Hutan Kemasyarakatan (HKm) dimana kelompok HKm “Ingin Maju” telah menanam sejumlah batang pohon di areal kritis.

Produk madu dan kayumanis dari Kab. Tanah Laut

Produk madu dan kayumanis dari Kab. Tanah Laut

Pada kawasan hutan produksi dan sebagian Areal Penggunaan Lain (APL) di Desa Telaga Langsat telah dikembangkan pola agroforestry yang disesuaikan dengan keahlian masyarakat setempat dalam mengelola ternak sapi dan lebah. Pola agroforestry tersebut mengakomodir kebutuhan pakan ternak sapi berupa rumput, jenis pohon berbunga khusus untuk kecukupan madu lebah – misal Kaliandra, dan pohon berkayu lainnya; yang dikenal dengan agroforestry silvopastura yaitu kombinasi antara tanaman hutan (silvo) dan tanaman pakan ternak (pasture). Dinamika silvopastura berikut pemanfaatan hasil tanaman, madu dan ternaknya dikelola oleh Kelompok Tani “Langsat Membangun” sehingga menghantarkan Desa Telaga Langsat sebagai Sentra Penghasil Madu di Kabupatan Tanah Laut.

Dr. Siti Nurbaya, MenLHK, saat berkunjung di Desa Telaga Langsat didampingi Bupati Tala, Kabalai BPDASHL Barito dan LSM

Dr. Siti Nurbaya Bakar, MenLHK, saat berkunjung di Desa Telaga Langsat didampingi Bupati Tala, Kabalai BPDASHL Barito dan LSM

Pada akhir bulan Agustus kemarin, tepatnya tanggal 28 Agustus 2016, Ibu Dr. Siti Nurbaya Bakar, Menteri LHK, berkenan hadir meninjau keberhasilan kedua kelompok tani tersebut untuk mengenal lebih jauh, berdiskusi dan menampung segala aspirasi yang berkembang di masyarakat Desa Tebing Siring dan Desa Telaga Langsat berikut menyelaraskan agenda pembangunan kehutanan di Kab. Tanah Laut pada khususnya dan Provinsi Kalimantan Selatan pada umumnya. Pada sambutannya beliau menjelaskan bahwa, “Perhutanan Sosial atau kemitraan kerja antara masyarakat dengan kawasan hutan negara itu menjadi program Presiden Jokowi dimana hutan harus bermanfaat dan membuat rakyat sejahtera. Pola-pola pembinaan kelompok tani dengan segala sumber daya yang ada itu sangat penting dan kita cari pola terbaiknya. Salah satunya perlu ada pendamping bagi kelompok tani, baik oleh rekan-rekan LSM/aktivis maupun civitas akademisi dari Perguruan Tinggi Universitas Lambung Mangkurat. Dalam hal ini juga diperlukan dukungan penuh dari Pemda Kabupaten Tanah Laut”. Pada kunjungan kerjanya tersebut, beliau takjub melihat keberhasilan masyarakat di sana dalam memanfaatkan kawasan hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi sumber ekonomi dengan tidak merusak hutan dan lingkungan. (Giri Suryanta, 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published.